SUMPAH PEMUDA DALAM BHINNEKA TUNGGAL IKA
A. Arti dan Makna
Sumpah Pemuda dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Adanya Sumpah Pemuda
mampu membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajah.
Bangkitnya semangat persatuan dan kesatuan akhirnya membawa Indonesia menuju
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
1. Peran
Perjuangan Pemuda dalam Organisasi Kepemudaan
Para pemuda pada masa
perjuangan berperan dengan cara mendirikan organisasi kepemudaan. Berikut
organisasi-organisasi kepemudaan yang muncul setelah berdirinya Budi Utomo.
a. Trikoro
Dharmo
Trikoro Dharmo adalah
organisasi yang didirikan oleh R. Satiman Wiryosanjoyo bersama kawan-kawannya
pada tahun 1915 di gedung STOVIA Jakarta. Lahimya Trikoro Dharmo karena adanya
rasa ketidakpuasan golongan muda terhadap langkah Budi Utomo yang cenderung
konservatif dan kurang bisa menampung aspirasi para pemuda sehingga pada
tanggal 7 Maret 1915, para pemuda sepakat mendirikan organisasi bernama Trikoro
Dharmo. Organisasi ini berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon
pemimpin bangsa atas dasar kecintaan kepada tanah airnya.
Trikoro Dharmo
mengandung arti tiga visi yang mulia, yaitu sakti yang berarti cavasaan dan
kecerdasan, budi vang berarti bijaksana, dan bakti yang artinya kasih sayang.
Tujuan Trikoro Dharmo, yaitu menyelenggarakan pertalian antara murid-murid bumi
putra di berbagai sekolah, mengusahakan peningkatan kemampuan budaya, serta
membangkitkan minat dan mempertajam rasa terhadap bahasa dan budaya di wilayah
Indonesia, Jabatan ketua diemban oleh Satiman Wirjosandjojo, wakil ketua
Soenardi (Mr. Wongsonegoro), dan sekretaris Soetomo. Pengurus lain, di
antaranya Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman.
Pada tanggal 12 Juni
1918, Trikoro Dharmo yang sejak 1917 diketuai oleh Sutardiaryodirejo melakukan
kongres di Solo. Kongres itu menghasilkan dua keputusan, yaitu ruang lingkup
keanggotaan dan nama organisasi serta mengenai kepengurusannya. Nama Trikoro
Dharmo yang sangat jawasentris diganti dengan nama Jong Java. Tujuan pengubahan
organisasi untuk membangun persatuan Jawa Raya yang dapat dicapai dengan jalan
mengadakan suatu ikatan yang baik di antara murid-murid sekolah menengah, berusaha
meningkatkan kepandaian anggotanya, dan menimbulkan rasa cinta terhadap budaya
sendiri. Dalam kongres itu, dipilihlah Satiman Wiryosanjoyo sebagai ketua.
Beliau inilah yang di kemudian hari terpilih menjadi ketua Perhimpunan
Indonesia di Belanda.
Setelah Kongres Pemuda
I pada tahun 1926, paham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin meningkat.
Pada kongres VII 27-31 Desember 1926 di Surakarta, Jong Java yang diketuai
Sunardi Djaksodipuro (Mr. Wongsonegoro) membuat putusan untuk mengubah tujuan
dan ruang gerak organisasi tersebut. Tujuan tidak hanya membangun Jawa Raya,
tetapi pada saatnya nanti, Jong Java juga harus bercita-cita membangun
persatuan dan membangun Indonesia Merdeka. Pada tahun 1928, organisasi ini siap
bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya dan ketuanya R. Koentjoro
Poerbopranoto. Sejak tanggal 27 Desember 1929, Jong Java pun bergabung dengan
Indonesia Muda.
b. Jong
Sumatranen Bond
Jong Sumatranen Bond
merupakan organisasi yang terdiri atas pemuda- pemuda Sumatra. Organisasi ini
berdiri pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. Pendirian Jong Sumatranen Bond
(JSB) bertujuan untuk mempererat hubungan diantara murid-murid yang berasal dari
Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa serta
mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. Adapun usaha yang dilakukan
organisasi ini, antara lain menghilangkan prasangka etnis di kalangan orang
Sumatra; memperkuat perasaan saling membantu; serta bersama-sama mengangkat
derajat penduduk Sumatra dengan jalan propaganda, kursus, dan ceramah.
JSB memiliki 8 cabang,
6 di Jawa meliputi Batavia, Bogor, Bandung, Serang,Sukabumi, dan Purworejo,
serta 2 di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittingi. Peberana tahun kemudian,
para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini karena Debenasi pemuda
Minangkabau dalam kepengurusannya sehingga para pemuda Batak mėmbentuk
perkumpulan Jong Batak.
c. Jong
Celebes
Dilibat dari namanya,
Jong Celebes memiliki arti Celebes Muda atau Pemuda Celebes, yaitu organisasi
pemuda yang berasal dari Pulau Celebes (Sulawesi). Organisasi ini didirikan
pada tahun 1912 dengan tujuan mempererat persatuan dan persaudaraan di kalangan
pemuda yang berasal dari Sulawesi. Adapun tokoh-tokohnya, yaitu Waroruntu,
Arnold Mononutu, dan Magdalena Mokoginta (dikenal Ibu Sukanto, Kepala
Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama).
d. Jong
Ambon
Organisasi Ambon Muda
atau Pemuda-Pemuda Ambon didirikan pada 9 Mei 1920 oleh A.J. Patty. Tujuannya
untuk menggalang persatuan dan mempererat tali persaudaraan di kalangan pemuda
yang berasal dari Ambon (Maluku). A.J. Patty mempersatukan
organisasi-organisasi orang Ambon menggunakan organisasi yang ia dirikan
sebelumnya, Serikat Ambon di Semarang. Karena dianggap menentang kebijakan
Belanda, ia diasingkan ke berbagai tempat sehingga organisasi ini mengalami
kemunduran. Akhirnya, muncul tokoh baru bernama Mr. Latuharhary.
e. Jong
Minahasa
Jong Minahasa merupakan
organisasi pemuda yang didirikan oleh para pemuda pelajar menengah yang berasal
dari Minahasa. Jong Minahasa artinya "Minahasa Muda" atau
"Pemuda Minahasa". Organisasi ini berdiri pada tanggal 24 April 1919
di Jakarta. Organisasi ini bertujuan menggalang serta mempererat persatuan dan
persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda (pelajar) yang berasal dari Minahasa.
Organisasi ini
kelanjutan dari Rukun Minahasa yang didirikan pada 1912 di Semarang. Salah satu
pemimpin Jong Minahasa, yaitu Ratulangi. Berdirinya organisasi ini bermula dari
kebutuhan praktis yang menekan kehidupan para pemuda pelajar di perantauan.
Artinya, organisasi ini bermula dari rasa solidaritas yang primordial.
f. Jong
Batak
Jong Batak atau Jong
Bataks Bond merupakan perkumpulan para pemuda yang berasal dari Batak
(Tapanuli). Organisasi ini berdiri pada tahun 1926 dengan tujuan mempererat
persatuan dan persaudaraan para pemuda yang berasal dari Batak serta memajukan
kebudayaan daerah. Salah satu tokohnya adalah Amir Sjarifudin.
g. Jong
Islamieten Bond
Jong Islamieten Bond
adalah organisasi pemuda yang terbentuk berdasarkan keagamaan. Organisasi ini
berdiri pada 1 Januari 1925 oleh Raden Sam setelah ia mengundurkan diri sebagai
ketua kongres Jong Java. Tujuan pertama pembentukan organisasi ini untuk
mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan mengikat rasa
persaudaraan para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah
yang sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah, seperti Jong Java (7
Maret 1915), Jong Sumatra (9 Desember 1917), dan lain-lain. Anggotanya terbuka
antara usia 14-30 tahun.
Secara formal,
organisasi ini tidak bergerak di bidang politik, tetapi bagi anggota yang
berusia lebih dari 18 tahun, boleh mengikuti kegiatan politik. Namun,
organisasi ini lebih memfokuskan agar para anggotanya lebih dalam mempelajari Islam
sesuai asas dan tujuan organisasi. Kongres ketiga organisasi ini berlangsung di
Yogyakarta pada 23-27 Desember 1927 dan banyak membicarakan masalah yang
dihadapi umat Islam terkait cita-cita persatuan dan nasionalisme.
2. Arti dan Makna
Sumpah Pemuda dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Tercetusnya ikrar
Sumpah Pemuda pada tahun 1928 diawali dengan peristiwa Kongres Pemuda I,
kemudian dilanjutkan dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda II. Kongres
Pemuda I berlangsung di Jakarta pada 30 April-2 Mei 1926. Dalam kongres I, para
pemuda membicarakan pentingnya persatuan bangsa bagi perjuangan menuju kemerdekaan.
Pada tanggal 27-28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia kembali mengadakan
Kongres Pemuda II.
a. Kongres
Pemuda I
Dalam perkembangannya,
organisasi Budi Utomo lebih banyak diikuti oleh golongan tua sehingga pada
tanggal 7 Maret 1915, di Jakarta, para pemuda seperti dr. R. Satiman
Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi mendirikan organisasi kepemudaan yang
bernama Trikoro Dharmo. Anggota Trikoro Dharmo terdiri atas anak sekolah
menengah di Jawa dan Madura. Tujuan organisasi ini adalah mencapai Jawa Raya
dengan memperkukuh rasa persatuan antara pemuda Jawa, Madura, Sunda, Bali, dan
Lombok.
Pada kongres di Solo
tanggal 12 Juli 1918, Trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Kehadiran Jong
Java ini mendorong lahirnya beberapa perkumpulan, seperti Pasundan, Jong
Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Timorees ver Bond, PPPI
(Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia). Selain itu, juga terdapat organisasi
wanita, seperti Puteri Indonesia, Aisijah, Wanita Sarekat Ambon, dan Organisasi
Wanita Taman Siswa. Keberadaan organisasi itu melahirkan keinginan untuk
menciptakan wadah tunggal pemuda Indonesia. Upaya untuk mewujudkan keinginan
tersebut mulai dirintis melalui Kongres Pemuda I yang dilaksanakan tanggal 30 April-2
Mei 1926 di Jakarta, Berikut tuiuan diadakannya Kongres Pemuda I.
- Membentuk badan sentral organisasi pemuda Indonesia.
- Memajukan paham persatuan kebangsaan.
- Mempererat hubungan di antara semua perkumpulan pemuda kebangsaan.
Kongres Pemuda l ini
dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong
Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Minahasa,
dan Jong Batak. Dalam pidato pembukaannya, ketua panitia, M. Tabrani, meminta
perhatian peserta untuk mencari cara menyatukan semangat nasional di kalangan
pemuda. Muh. Yamin menyampaikan pemikirannya tentang bahasa persatuan. Dalam
pidatonya pada 2 Mei 1926, yang berjudul "Kemungkinan-Kemungkinan Masa
Depan Bahasa dan Sastra Indonesia", Muh. Yamin yakin bahwa dari sekian
banyak bahasa yang dipakai oleh suku bangsa Indonesia, bahasa Melayu dan bahasa
Jawa yang diharapkan menjadi bahasa persatuan. Namun, Muh. Yamin yakin bahasa
Melayu lambat laun akan menjadi bahasa persatuan Indonesia.
Kongres Pemuda I ini
menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia walaupun perumusannya masih
belum jelas. Hal ini karena adanya fanatisme terhadap adat yang masih sangat
kuat sehingga memengaruhi pembicaraan dalam kongres tersebut. Pemimpin Kongres,
Moh. Tabrani, menjaga jalannya kongres tersebut dengan cara setiap pembicaraan
yang menjurus ke arah perbedaan adat dan pandangan, segera diambil jalan tengah
untuk dinetralisasi. Oleh karena itu, dalam kongres banyak pidato yang berjudul
Indonesia Bersatu dengan tujuan untuk memperkuat rasa persatuan dan mengatasi
kepentingan golongan. Secara jelas diuraikan tentang sejarah perjuangan
Indonesia dan ditekankan masalah terkait cita-cita meraih kemerdekaan.
Hasil utama yang
dicapai dalam Kongres Pemuda I, yaitu mengakui dan menerima cita-cita persatuan
Indonesia (dalam hal ini masih tampak samar-samar) serta usaha untuk
menghilangkan pandangan adat dan kedaerahan yang kolot. Berdasarkan hasil
kesepakatan tersebut, tampak kemajuan yang mendukung arti pentingnya kesatuan
dan persatuan antarmereka.
Untuk menindaklanjuti
kesepakatan pada Kongres Pemuda I, para pelajar dari berbagai daerah pada bulan
September 1926, mendirikan Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indonesia (PPPI) di
Jakarta. PPPI bertujuan memperjuangkan Indonesia merdeka, Peserta dalam Kongres
Pemuda I memang menyadari bahwa pada saat itu masih sulit untuk membentuk
kebulatan tekad dalam perjuangan mencapai cita-cita nasional. Selain itu, belum
banyak anggota Perhimpunan Indonesia yang kembali ke tanah air dan belum ada
anggota Perhimpunan Indonesia yang mengikuti kongres tersebut.
b. Kongres
Pemuda II
Atas inisiatif
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), diadakan Kongres Pemuda II di
Jakarta. Kongres Pemuda Tl berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober dalam tiga
tahap rapat. Rapat pertama berlangsung
di gedung Katholieke Oktoingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan
Banteng), lalu dipindahkan Jongeingea Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang
Jalan Medan Merdeka Utara), kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat
ketiga sekaligus penutupan rapat
Pada bulan April 1926
telah berlangsung Kongres Pemuda I yang bisa dikatakan belum berhasil sesuai
harapan, maka dalam Kongres Pemuda II benar-benar dapat memenuhí harapan bagi
seluruh rakyat Indonesia. Dalam Kongres Pemuda I belum banyak orang bekas
anggota Perhimpunan Indonesia yang ikut membantu pembicaraan sejak persiapan
maupun dalam persidangan, sedangkan dalam Kongres Pemuda II telah banyak orang
bekas anggota Perhimpunan Indonesia yang secara aktif mengambil bagian dalam
persiapan sampai pelaksanaan kongres. Adapun tujuan Kongres Pemuda II sebagai
berikut.
- Melahirkan cita-cita perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia.
- Membicarakan masalah pergerakan pemuda Indonesia.
- Memperkuat kesadaran kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia.
Teks Sumpah Pemuda
dibacakan pada waktu Kongres Pemuda Il yang diadakan di Waltervreden (sekarang
Jakarta) pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres Sumpah Pemuda dihadiri
perwakilan pemuda dari segala penjuru daerah dan berbagai etnis, antara lain
Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong
Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, dan Pemuda Kaum Betawi. Di antara mereka
juga ada pemuda Indonesia keturunan Tionghoa dan Arab. Bahkan, A.R. Baswedan
kemudian melanjutkan komitmen dengan mengadakan Sumpah Pemuda Indonesia
keturunan Arab di Semarang.
Sumpah Pemuda bertempat
di Jalan Kramat Raya Nomor 106 Jakarta Pusat (sekarang Museum Sumpah Pemuda).
Pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda
saat pembacaan teks Sumpah Pemuda, yaitu Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok,
Oey Kay Siang, dan Tjio Djien Kwie.
Sumpah Pemuda yang
dibacakan pada 28 Oktober 1928 adalah rumusan dari Kongres Pemuda Il yang
merupakan tindak lanjut dari Kongres Pemuda I. Pada Kongres Pemuda Il
menghasilkan keputusan-keputusan berikut.
- Menerima lagu "Indonesia Raya" ciptaan W.R. Soepratman sebagai lagu kebangsaan.
- Menerima Merah Putih sebagai bendera Indonesia.
- Meleburnya semua organisasi kepemudaan menjadi satu wadah yang berwatak nasional dalam arti luas dengan nama Pemuda Indonesia.
Sumpah Pemuda merupakan
sebuah pernyataan yang tegas untuk mewujudkan tekad persatuan Indonesia. Adapun
makna ikrar Sumpah Pemuda 1928 sebagai berikut.
a. Kami
Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia
Indonesia merupakan
negara yang kaya dan sangat indah. Bangsa lain pun ikut takjub dan kagum dengan
tanah air kita. Mereka menyebut negeri ini sebagai zamrud khatulistiwa.
Beraneka ragam suku bangsa, ras, etnik, agama, dan budaya ada di Indonesia.
Kita sebagai warga negara Indonesia, patut bangga terhadap Indonesia. Untuk
itu, kita harus bangun rasa kecintaan dan kebanggaan kita terhadap tanah air
Indonesia.
Tumpah darah adalah
sebutan lain untuk tanah kelahiran. Ikrar satu tumpah darah menggambarkan Indonesia adalah satu negara yang
utuh walaupun terpisah-pisah berbagai pulau. Walaupun terpisah lautan, tidak
dianggap pemisah. Maksud dari satu tumpah darah adalah satu tanah air
Indonesia. Dengan demikian, bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia mengandung
makna bahwa setiap pemuda berjuang sampai darah penghabisan untuk menjunjung
tinggi tanah air Indonesia.
b. Kami
Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia
Bangsa adalah
sekumpulan masyarakat yang hidup di suatu wilayah dan mereka berada di bawah
satu pemerintahan. Pada saat belum terbentuknya Sumpah Pemuda, Indonesia ingin
membentuk negara sendiri-sendiri. Ada bangsa Jawa, Sunda, Aceh, Sulawesi,
Maluku, dan sebagainya. Dengan ikrar satu bangsa, tidak ada perbedaan
antarbangsa dan menjadi satu bangsa Indonesia.
Pengakuan kita sebagai
bangsa Indonesia merupakan bentuk dari paham kebangsaan yang disebut kesadaran
berbangsa. Rasa kebangsaan Indonesia tumbuh
dari sejarah panjang bangsa, Berawal dari hasrat ingin bersatu penduduk yang
latar belakangnya sangat majemuk, kemudian berkembang menjadi keyakinan untuk
menjadi satu bangsa yang akhirnya dideklarasikan oleh sejumlah pemuda pada saat
Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Kita sebagai generasi
penerus mempunyai kewajiban untuk melestarikannya. Pelestarian rasa kebangsaan
Indonesia.merupakan salah satu usaha untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Dengan demikian, berbangsa satu, bangsa Indonesia
mengandung arti bahwa pemuda dan tumpah darah Indonesia menjunjung tinggi
bangsa Indonesia. Perjuangan untuk berkorban pada satu-satunya bangsa tercinta,
yaitu Indonesia.
c. Kami
Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Sumpah Pemuda
menegaskan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia
memiliki peran yang sangat menentukan dalam perkembangan kehidupan bangsa
Indonesia. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, bahasa Indonesia berhasil menjadi
alat komunikasi untuk membangkitkan dan menggalang semangat kebangsaan dan
perjuangan dalam mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan. Kenyataan sejarah itu berarti bahwa bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan telah berfungsi secara efektif sebagai alat komunikasi
antarsuku, antardaerah, bahkan antarbudaya.
Bahasa Indonesia
ditetapkan sebagai bahasa negara dan menjadi alat komunikasi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan
sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan kehidupan negara dan pemerintahan,
tetapi juga sebagai bahasa pengantar pada jenis dan jenjang pendidikan, bahasa
perhubungan nasional (terutama dalam kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan nasional), serta sarana pembinaan dan pengembangan kebudayaan
nasional.
Pernyataan bahasa
persatuan, bahasa Indonesia dalam ikrar Sumpah Pemuda mengandung arti bahwa
Indonesia memiliki keragaman bahasa dari berbagai suku dan budaya. Untuk
meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan, pemuda sepakat menggunakan bahasa
persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa
persatuan dan kesatuan Indonesia terbentuk atas dasar kesadaran bersama untuk
mencapai satu tujuan.
Komentar
Posting Komentar