SEMANGAT KEBANGKITAN NASIONAL 1908
A. Kondisi Bangsa Indonesia Sebelum Tahun 1908
Lahirnya masa
Kebangkitan Nasional 1908 didorong oleh golongan terpelajar saat itu melihat kondisi
bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan. Kedatangan bangsa-bangsa asing yang
awalnya ingin mencari rempah-rempah berubah ingin menguasai wilayah Indonesia.
1. Kondisi
Bangsa Indonesia Sebelum 1908
Sejak awal abad ke-15
bangsa Indonesia sudah mengalami penjajahan. Bermula dari kedatangan bangsa
Portugis dan Spanyol yang awalnya ingin mencari rempah-rempah di Indonesia.
Namun, keinginan tersebut berubah ingin menguasai sumber daya alam Indonesia.
Kedua bangsa tersebut juga telah melakukan Perjanjian Tordesilas yang isinya
membagi dunia menjadi dua bagian. Bangsa Portugis telah merebut Malaka pada
tahun 1511. Penguasaan daerah rempah-rempah di Maluku dipimpin oleh Alfonso De
Alburqueque. Di sisi lain, armada bangsa Spanyol sampai di Filipina pada 1521
sampai ke Kepulauan Maluku, Tidore, pada tahun 1522 menjalin hubungan persahabatan
dengan Uli Siwa di Tidore. Pada saat itu Spanyol dan Portugis membuat Perjanjian
Saragossa yang menetapkan garis anti meridian. Garis tersebut berada disebelah
timur Kepulauan Maluku, tepatnya di sekitar Guam. Hal ini bertujuan agar tak terjadi
perselisihan. Berdasarkan perjanjian tersebut, Portugis menguasai wilayah
timur, sedangkan Spanyol menguasaj wilayah sebelah barat. Hal ini membuat
Indonesia sepenuhnya berada di tangan bangsa Portugis.
Pada tahun 1596, armada
dagang Belanda berlabuh di Banten dengan dipimpin Cornelis de Houtman. Awalnva,
mereka datang hanya ingin mencari rempah-rempah. Karena buruknya kepemimpinan
Cornelis de Houtman menyebabkan dia kehilangan satu perahu dan banyak awaknya.
Hal ini berakibat mulai kedatangan pasukan VOC (Vereeningde Oost-Indische
Compagnie) di Ambon pada tanggal 23 Februari 1605 dengan tujuan untuk menguasai
rempah-rempah di Maluku. Dari sinilah, Belanda mulai menjajah bangsa Indonesia
dengan taktik memecah belah (devide et impera). Kondisi Indonesia semakin buruk
karena adanya kebijakan yang diterapkan VOC di antaranya pemberlakuan sistem
tanam paksa dan politik etis oleh van den Bosch dan van Deventer. Hal ini membuat
rakyat Indonesia semakin menderita.
Rakyat Indonesia telah
memberi banyak keuntungan bagi Belanda. Pada tahun 1901, Ratu Belanda,
Wihelmina, memberi kebijakan baru, yaitu politik etis atau politik balas budi
untuk memakmurkan Hindia Belanda. Politik etis ini dikemukakan oleh Mr. Conrad
Theodore van Deventer. la mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan
kehidupan wilayah jajahan.
Politik etis merupakan
kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah Belanda dikarenakan adanya kecaman
dan kritikan dari kalangan bangsa Belanda sendiri sebagai berikut.
- Baron van Houvell mengecam keras tindakan Belanda yang hanya sibuk mencari keuntungan sehingga lewat parlemen Baron van Houvell mengusulkan agar nasib rakyat diperbaiki sebagai ungkapan "balas budi".
- Lewat tulisannya berjudul "Een Eereschuld (Utang Kehormatan)", van Deventer menerangkan bahwa Belanda telah memperoleh sumbangan yang besar dari tanah jajahan dan itu merupakan sebuah utang yang harus dibayar melalui program meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat jajahan. Program tersebut dikenal dengan Trias van Deventer/Trilogi van Deventer yang terdiri atas irigasi (memperbaiki perairan di bidang pertanian), edukasi (meningkatkan derajat rakyat Indonesia di bidang pendidikan), dan migrasi (perpindahan penduduk ke daerah perkebunan- perkebunan untuk meningkatkan perekonomian penduduk pribumi).
2. Faktor-Faktor
yang Mendorong Lahirnya Kebangkitan Nasional
Lahimya kebangkitan
nasional tidak terlepas dari usaha para pemimpin yang berasal dari kaum intelek
yang memberikan kesadaran pada rakyat Indonesia untuk bersatu meraih
kemerdekaan. Lahirnya kebangkitan našional juga dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
a. Faktor
Intern
Faktor intern merupakan
faktor yang berasal dari dalam negeri. Adapun faktor intern yang mendorong
munculnya kebangkitan nasional sebagai berikut
- Penjajahan yang terjadi mengakibatkan penderitaan pada rakyat Indonesia
- Adanya kenangan akan kejayaan pada masa lalu, yaitu ketika Sriwijaya dan Majapahit pernah memiliki negara kekuasaan yang jaya dan berdaulat.
- Lahirnya kelompok terpelajar Islam telah menyadarkan bangsa Indonesia vang terjajah untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang peniajahan.
- Lahirnya kelompok terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat dan Islam dari luar negeri. Kesempatan ini terbuka setelah pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 menjalankan politik etis (edukasi, imigrasi, dan irigasi).
- Muncul dan berkembangnya semangat persamaan derajat pada masyarakat Indonesia dan berkembang menjadi gerakan politik yang sifatnya nasional.
- Menyebarnya paham-paham baru, seperti demokrasi, liberalisme, sosialisme, dan komunisme di Indonesia yang dilakukan oleh kalangan terpelajar
b. Faktor
Ekstern
Faktor ekstern
merupakan faktor yang berasal dari luar negeri. Adapun faktor ekstern yang
mendorong munculnya kebangkitan nasional sebagai berikut.
- Munculnya kesadaran tentang pentingnya semangat kebangsaan, semangat nasional, perasaan senasib sebagai bangsa terjajah, serta keinginan untuk mendirikan negara berdaulat lepas dari cengkeraman imperialisme di seluruh negara-negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
- Perang Dunia I (1914-1919) telah menyadarkan bangsa-bangsa terjajah bahwa negara-negara imperialis berperang di antara mereka sendiri sehingga tokoh-tokoh pergerakan di Asia, Afrika, dan Amérika Latin menyadari bahwa kini saatnya mereka untuk melakukan perlawanan.
- Munculnya rumusan damai mengenai penentuan nasib sendiri (self determination) Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, setelah Perang Dunia I disambut tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia sebagai pijakan dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan.
- Lahirnya komunisme melalui Revolusi Rusia 1917 yang diikuti semangat antikapitalisme dan imperialisme telah memengaruhi tumbuhnya ideologi perlawanan di negara-negara jajahan terhadap imperialisme dan kapitalisme Barat. Konflik ideologi tersebut memberikan dorongan bagi bangsa-bangsa terjajah untuk melawan imperialisme Barat.
- Munculnya nasionalisme di Asia dan di negara jajahan lainnya di seluruh dunia telah mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk melakukan perlawanan.
- Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 telah memberikan keyakinan bagi tokoh nasionalis Indonesia bahwa bangsa kulit putih Eropa dapat dikalahkan oleh kulit berwarna Asia.
- Model pergerakan nasional yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India, Mustafa Kemal Pasha di Turki, serta Dr. Sun Yat Sen di Tiongkok telah memberikan inspirasi bagi kalangan terpelajar nasionalis Indonesia bahwa imperialism Belanda dapat dilawan melalui organisasi modern.
B. Perintis Kebangkitan Nasional dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
Budi Utomo merupakan awal lahirnya semangat kebangkitan bangsa Indonesia untuk berjuang melawan para penjajah. Berdirinya Budi Utomo dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memajukan bangsa dan menumbuhkan nasionalisme melalui jalur pendidikan.
1. Budi
Utomo
Lahirnya kebangkitan
nasional ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo. Hal ini karena Budi
Utomo menggunakan strategi perjuangan yang baru dan berbeda dari perjuangan
sebelumnya. Budi Utomo merupakan organisasi yang berdiri pada tanggal 20 Mei
1908 atas gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo. Dokter Wahidin Sudirohusodo merupakan
seorang lulusan dari STOVIA (Sekolah Kedokteran Jawa) yang merasa bahwa untuk
bisa membebaskan Indonesia dari penjajahan, rakyat Indonesia harus cerdas.
Organisasi Budi Utomo
merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bersifat nasional dan berbentuk
modern. Secara harfiah, kata budi dalam Budi Utomo artinya perangai atau
tabiat, sedangkan utomo berarti baik atau luhur. Organisasi Budi Utomo artinya
usaha mulia. Jadi, Budi Utomo bermakna sebuah wadah bagi anggotanya untuk mencapai
sesuatu berdasar keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat.
Organisasi Budi Utomo
lahir dari diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School Tot Opleiding
van Inlandsche Artsen (STOVIA) oleh beberapa mahasiswa, seperti Sutomo, Gunawan
Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, dan R.T. Ario Tirtokusumo. Mereka memikirkan
nasib bangsa Indonesia yang sangat buruk serta cara memperbaiki para pejabat
pangreh praja (sekarang pamong praja) yang hanya memikirkan kepentingan sendiri
dan jabatan.
Adapun susunan pengurus
Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908, yaitu posisi ketua dijabat
oleh R. Sutomo, wakil ketua dijabat oleh M. Sulaeman, sekretaris I dijabat oleh
Suwarno, sekretaris II dijabat oleh M. Suwarno, posisi bendahara dijabat oleh
R. Angka, serta posisi komisaris dijabat oleh M. Suwarno dan Muhammad Saleh.
Awalnya Budi Utomo
bukanlah organisasi politik, tetapi bergerak di bidang pendidikan dan sosial
budaya. Tujuan utama organisasi ini adalah kemajuan bagi Hindia Belanda dalam
bidang pengajaran dan pendidikan. Tujuan tersebut ingin dicapai dengan usaha berikut.
- Meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia dengan jalan memajukan pendidikan dan pengajaran.
- Meningkatkan ekonomi rakyat dan mempererat kehidupan sosial.
- Menghidupkan kembali kebudayaan.
- Memajukan teknik dan industri.
Beberapa bentuk peran
politik Budi Utomo sebagai berikut.
- Melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dari serangan bangsa lain.
- Menyokong gagasan wajib militer pribumi.
- Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk pertahanan Hindia.
- Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
- Membentuk Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota Volksraad.
Keunggulan dari Budi
Utomo, yaitu meningkatnya kualitas penduduk di Indonesia karena organisasi ini
melaksanakan pembelajaran bahasa Belanda. Namun pada awal pembentukan Budi
Utomo, organisasi ini memiliki berbagai kendala di antaranya pembatasan anggota
Budi Utomo hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura serta tidak mencampuri urusan
politik.
Budi Utomo mengalami
fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirdjo. Saat itu,
Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia,
dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata.
Berkat pengaruhnya pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin
lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Muncullah
Indische Partii vang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi
persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang
Indonesia tanpa terkecuali.
Kongres Budi Utomo yang
pertama berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Kongres ini
dihadiri beberapa cabang, yaitu Bogor, Bandung, Yogya Yogya II, Magelang,
Surabaya, dan Batavia.
Terpilihnya R.T.
Tirtokusumo yang seorang' bupati sebagai ketua rupanya dimaksudkan agar lebih
memberikan kekuatan pada Budi Utomo. Kedudukan bupati memberi dampak positif
dalam menggalang dana dan keanggotaan Budi Utomo. Keberadaan Budi Utomo untuk
mendapatkan badan hukum dari pemerintah Belanda terealisasi pada tanggal 28
Desember 1909, anggaran dasar Budi Utomo disahkan. Dalam perkembangannya, di
tubuh Budi Utomo muncul dua aliran, yaitu pihak kanan dan kiri. Pihak kanan
berkehendak supaya keanggotaan dibatasi pada golongan terpelajar saja, tidak
bergerak di ranah politik dan membatasi pada pelajaran sekolah saja. Pihak kiri
terdiri atas kaum muda yang berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang
demokratis.
Pada tahun 1927, Budi
Utomo masuk dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia) yang dipelopori Ir. Soekarno. Meskipun demikian, Budi
Utomo tetap eksis dengan asas kooperatifnya. Pada tahun 1928 Budi Utomo
menambah asas perjuangannya, yaitu "medewerking tot de verwezenlijking van
de Indonesische eenheidsgedachte" (ikut berusaha untuk melaksanakan
cita-cita persatuan Indonesia). Hal ini mengisyaratkan bahwa Budi Utomo menuju
kehidupan yang lebih luas tidak hanya Jawa dan Madura, namun meliputi seluruh
Indonesia. Usaha ini diteruskan dengan mengadakan fusi dengan PBI (Persatuan
Bangsa Indonesia) suatu partai pimpinan Dr. Sutomo. Fusi ini terjadi pada tahun
1935, hasil fusi melahirkan Parindra (Partai Indonesia Raya) sehingga
berakhirlah organisasi Budi Utomo.
2. Makna
Kebangkitan Nasional
Kelahiran Budi Utomo
dianggap sebagai dimulainya kebangkitan nasional karena menggunakan strategi
perjuangan yang baru dan berbeda dengan perjuangan sebelumnya. Ciri-ciri
perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908 sebagai berikut.
- Perjuangan dilakukan melalui organisasi, bukan dengan kekerasan.
- Para pemimpin berasal dari kaum intelektual, bukan raja atau sultan.
- Rasa persatuan dan kebangsaan sudah mulai tumbuh (tidak bersifat kedaerahan).
Kebangkitan nasional
memiliki makna tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan nasional merupakan
upaya masyarakat Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme
bangsa Barat saat itu. Kebangkitan nasional juga bisa diartikan sebagai suatu
fase permulaan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan tanpa adu senjata yang
dimotori oleh organisasi Budi Utomo. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan,
yaitu memberikan beasiswa kepada anak-anak yang tidak mampu membayar biaya
sekolah, kemudian berujung menjadi motor politik pergerakan orang-orang pribumi
dalam rangka merebut kemerdekaan.
Makna kebangkitan
nasional sebagai tonggak pergerakan nasional adalah bangkitnya rasa dan
semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul setelah
penjajahan Belanda dan Jepang. Momen hari Kebangkitan Nasional harus menjadi
bahan renungan bagi generasi muda karena yang dinamakan bangkit di sini adalah
mencapai seluruh aspek kehidupan, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, mental, sosial,
maupun budaya, serta banyak hal lainnya yang mendukung untuk tercapainya kemajuan
bangsa. Dengan kata lain, harus bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa
depan dengan memperbaiki, meningkatkan, atau mempertahankan prestasi yang sudah
ada.
Komentar
Posting Komentar